Unknown

Fekunditas

Secara sederhana Fekunditas dapat diartikan oleh jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan. Terdapat beberapa jenis Fekunditas diantaranya :
  1. Fekunditas individu adalah jumlah telur yang dikeluarkan dari generasi tahun itu dan akan dikeluarkan pada tahun itu pula.
  2. Fekuindita relatif adalah jumlah telur per atuan panjang dan berat.
  3. Fekunditas total adalah jumlah jumlah telur yang dihasilkan ikan selama hidupnya.
Fekunditas secara langsung dapat memberi penaksiran jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan kan menentukan jumlah ikan dalam suatu kelas umur. Fekunditas merupakan suatu subyek yang dapat menyesuaikan terhadap beberapa macam kondisi terutama respon terhadap makanan.
Jumlah telur yang dikeluarkan merupakan suatu mata rantai penghubung antara satu generasi dengan generasi berikutnya.
Metode Penghitungan Fekunditas
Dalam menghitung Fekunditas dikenal dua metode, yaitu
  1. Metode Numerik, metode sensus dengan menghitung semua jumlah telur yang ada pada gonad secara manual (satu per saru).
  2. Metode Volumetrik, perhitungan sampel, caranya sebagai berikut :
    1. Menghitung volume gonad keseluruhan (dapat dilakukan engan memasukannya pada gelas ukur berisi air, dan menghitung selisis volume awal air saja dan volume akhir, yaitu air dan gonad). (V)
    2. Membagi kedua gonad dalam 3 bagian (anterior A, tengah T,  dan posterior, P)
    3. Menghitung volume ke-3 bagian gonad tersebut di setiap gonad (jadi ada 6 bagian). (seperti pada cara yang pertama). (v)
    4. Menghitung telur pada 6 bagian telur tersebut secara manual. (x)
    5. Menghitung Fekunditas dengan memasukannya pada rumus. (X)
Penghitungan kedua metode diharapkan memberi hasil yang mendekati.
Factor-faktor yang mempengaruhi fekunditas serta hal-hal lain yang berhubungan dengan hal itu, Nikolsky ( 1969 ) :
  1. Sampai umur tertentu fekunditas itu akan bertambah kemudian menurun, fekunditas relatifnya menurun sebelum terjadi penurunan fekunditas mutlaknya. Fekunditas relative maksimum terjadi pada golongan ikan yang muda. Sedangkankan ikan yang sudah tua kadang tidak memijah setiap tahun
  2. Fekunditas mutlak atau relative sering menjadi kecil pada ikan-ikan atau kelas umur yang jumlahnya banyak.
  3. Kenaikan fekunditas populasi dapat disebabkan oleh kematangan gonad yang lebih awal dari individu yang tumbuh lebih cepat.
  4. Ikan yang bentuknya kecil dengan kematangan gonad yang lebih awal serta fekunditasnya tinggi mungkin disebabkan oleh kandungan makanan dan predator dalam jumlah besar.
  5. Perbedaan fekunditas diantaranya populasi spesie yang hidup dalam kondisi lingkungna yang berbeda-beda, bentuk migrant fekunditasnya lebih besar.
  6. Fekunditas disesuaikan secara otomatis melalui metabolism yang mengadakan reaksi terhadap perubahan persediaan makanan dan menghsilkan perubahan dalampertumbuhan, seperti ukuran pada umur tertentu demikian juga ukuran danjumlah telur atau jumlah siklus pemijahan dalam satu tahun.
  7. Fekunditas bertambah dalam mengadakan respon terhadap perbaikan makanan melalui kematangn gonad yang lebih awal, menanmbah kemantangn individu pada individu yang lebih gemuk dan mengurangi antara siklus pemijahan.
  8.  Kualits telur terutama isi kuning telur berganrung pada umur dan persediaan makanan dan dapat berbeda dari satu populasi ke populasi yang lain.
Sumber :  Effendie, Ichsan . 1997. Biologi Perikanan. Bogor. Yayasan Pustaka Nusantama

Unknown

Minggu, 02 Maret 2014

Profile SMKN 1 Mundu Cirebon

Untuk pertama kalinya sekolah ini berdiri dan beroperasi pada tanggal 1 Agustus 1965 berdasar SK Mendikbud No. 79/Dirpt/Bi/65, tanggal 8 Juli 1965 dengan nama Sekolah Teknologi Menengah Perikanan Laut (STM-PL) Negeri Cirebon, berlokasi di Jalan Pasuketan No. 15 Kodya Cirebon, dengan dua jurusan, yaitu:
1.   Teknik Penangkapan Ikan (TPI)
2.   Processing/Pengolahan Ikan  (PI)
Pada tahun 1973, berpindah alamat ke Jalan Kalijaga Mundupesisir No. 01 Cirebon.  Berdasarkan SK Mendikbud No. 0298/0/1976, tanggal 9 Desember 1976,  berganti nama menjadi Sekolah Menengah Teknologi Pertanian (SMT Pertanian) Negeri Cirebon, dengan dua program studi, yaitu
1.  Teknologi Penangkapan Ikan (TPI)
2.  Teknologi Hasil Pertanian (THP)

Pada tahun ajaran 1988/1989 dibuka program studi baru, yaitu Budidaya Ikan (BI). Pada tahun 1997 seluruh sekolah kejuruan (STM,SMEA,  SMKK,  SMT Pertanian dan sejenisnya) diseragamkan namanya menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sejak itu SMT Pertanian Negeri Cirebon berrganti nama menjadi SMK Negeri 1 Mundu Cirebon dan membuka 2 program keahlian baru yaitu : Teknika Kapal Penangkapan Ikan (TKPI) dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).

.: Identitas Sekolah :.

NPSN : 20214795
NSS : 581021709001
Nama Sekolah : SMKN 1 MUNDU CIREBON
Tahun Dibuka : 1965
Tahun Akhir Renovasi : 2012
Alamat : JL. Raya Mundu Pesisir No. 01
Desa/Kelurahan : Mundu Pesisir
Kode Pos : 45173
Kecamatan : Kecamatan Mundu
Kabupaten : Kabupaten Cirebon
Provinsi : Propinsi Jawa Barat
Status Sekolah : Negeri
Bentuk Sekolah : Biasa/Konvensional
Jenis Sekolah : SMK
Jarak Sekolah Sejenis : 1 km
Waktu Penyelengaraan : Pagi
Sertifikasi ISO : 9001:2008
Latitude : -6.750599286626908
Longitude : 108.58911663293839

.: Dokumen dan Perijinan :.

No. SK Pendirian : 79/Dirpt/BI/1965
Tgl. SK Pendirian : 07-08-1965
No.SK Akhir Sekolah : 79/Dirpt/BI/1965
Tgl. SK Akhir Sekolah : 07-08-1965
Akreditasi : Terakreditasi A
No. SK Akreditasi : 00200/536/BAN-SM/XI/2010
Tgl. SK Akreditasi : 09-11-2010

.: Program Keahlian :.

1.  Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI)
2.  Teknika Kapal Penangkap Ikan (TKPI)
3.  Agribisnis Perikanan (AP)
4.  Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan (TPHPi)
5.  Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ)

.: Kontak :.

Telpon : 0231-510385 atau 0231-510956
No. Fax : 0231-510385
Email : smk1mundu@yahoo.co.id
Website : www.smkn1-mundu.sch.id
Unknown
PEMIJAHAN ALAMI IKAN KAKAP PUTIH(LATES CALCARIFER)

  Persiapan pemijahan
Persiapan pemijahan adalah langkah awal untuk mempesiapkan proses pemijahan,persiapan pemijahan yang di lakukan yaitu pemasangan Egg Collector mes 56 ( penampungan telur )  pada bak pelimpasan,di pasang pada sore hari.dan dengan mengalirkan air dari pintu outlet secara terus menerus dan pintu outlet di tutup,hal ini bertujuan agar ketika induk mengeluarkan telur,telur akan masuk ke bak pelimpasan dan tertampung di Egg Collector. Adapun Kriteria induk ikan kakap putih ( Lates calcarifer ) yang baik untuk dipijahkan adalah sebagai berikut :

1)      Sehat berwarna kelabu cerah
2)      Gerakan aktif
3)      Sirip dan sisik lengkap serta tidak cacat
4)      Mata berwarna bening
5)      Dilihat berdasarkan bobot induk. Karena ikan kakap putih   bersifat hermaphrodite protandry, dimana ikan kakap jantan akan mengalami perubahan kelamin ( change sex ) menjadi betina .
Jadi, untuk bobot induk ikan kakap putih yaitu :
- Jantan : 1.5 – 3 kg ( 2 tahun )
- Betina  : 4 – 6 kg ( 4 tahun ). Betina yang beratnya lebih dari 6 kg masih produktif                     dalam proses pemijahan.
3.7        Proses Pemijahan
Pemijahan adalah proses perkawinan antara ikan jantan dan betina. Proses pemijahan ikan kakap putih ( Lates calcarifer ) dilakukan  secara alami ( Natural spawning ), yaitu pemijahan ikan tanpa campur tangan manusia, terjadinya secara alamiah ( tanpa pemberian rangsangan hormone ). Pemijhan umumnya terjadi menurut siklus peredaran bulan yaitu pada waktu bulan gelap dan bulan purnama. Biasanya ikan kakap putih mijah pada malam hari sekitar pukul 19:00 – 21: 00 atau pagi hari sekitar pukul 05 : 00 – 06 : 00. Adapun beberapa faktor penentu dalam keberhasilan proses pemijahan antara lain :
1)      Suasana tenang
2)      Tidak banyak cahaya ( gelap )
3)      Kualitas air yang mencukupi
4)      Pakan induk
Berikut ciri – ciri induk yang akan mijah :
1)      Nafsu makan berkurang hingga 50 %
2)      Selalu berenang bersamaan ( betina 1 ekor dan jantan 2 – 3 ekor ), biasanya berenang dibawah aerasi.
3)      Tepat pada waktunya ( bulan purnama dan bulan gelap

3.8       Penanganan Telur
Pagi harinya cek keberadaan telur dalam bak pelimpasan. Setelah telur tertampung dalam bak pelimpasan, Telur tersebut diambil menggunakan scop net mesh 56 untuk kemudian dipindahkan ke dalam tangki penetasan telur yang sudah disiapkan.
Gambar. Penampungan telur
Langkah selanjutnya adalah perhitungan telur, perhitungan telur bertujuan untuk mengetahui jumlah telur dan persentase telur yang berhasil menetas. Adapun langkah – langkah perhitungan telur yaitu sebagai berikut :
1)      Alat :
a.         Takaran 2 ml
b.        Cawan / wadah sampel
c.         Sendok plastik
d.        Ember
e.         Scop-net 56 mikron
2)     Bahan :
a.     Air
b.     Telur ikan kakap putih ( Lates calcarifer )
    3)     Langkah kerja :
      a.         Siapkan alat dan bahan terlebih dahulu
    b.      Telur yang sudah berada dibak pelimpasan, kemudian diambil dengan menggunakan scop-net mesh 56 dan ditampung dalam ember dengan volume air 10 liter ( 10.000 ml )
     c.      Diambil 3 titik sample menggunakan takaran 2 ml, yaitu dari bagian permukaan, tengah, dan dari dasar.
     d.      Masing – masing sample dihitung, dan diambil rata – rata
     e.       Maka diperoleh rumus :
     f  .     Hitung menggunakan rumus tersebut, maka akan diketahui jumlah telur dalam ember tersebut.
Setelah perhitungan telur, telur tersebut kemudian masuk ke tangki penetasan yang sudah disiapkan. Telur akan menetas dalam waktu 17 jam dengan suhu 290c







Unknown
3.3.Persiapan Wadah
Bersih tidaknya budidaya ditentukan oleh persiapan dan pelaksanaan yang baik, salah satunya adalah persiapan wadah. Jika wadah sudah memenuhi syarat maka kegiatan budidaya dapat dilakukan. Tujuan dari persiapan wadah adalah untuk menciptakan lingkungan kolam dalam kondisi optimal bagi ikan kakap putih ( Lates calcarifer ) .Berikut langkah kerja persiapan wadah pemeliharaan induk dan persiapan wadah pemeliharaan larva;

1. Alat :
a.                   Sikat
b.                  Scooring pad
c.                   Ember
d.                  Gayung
2. Bahan   :
a.                   Air
b.                  Kaporit ( 100 – 200 ppm )
3. Langkah kerja :
a.                   Penyurutan air terlebih dahulu
b.                  Induk dipindahkan pada bak yang sudah disiapkan
c.                   Bak digosok menggunakan scooring pad
d.                  Bilas dengan air bersih
e.                   Larutkan kaporit dengan air
f.                   Siramkan  kaporit secara merata pada bak yang akan dicuci ( diamkan selama 3    jam )
g.                  Bilas kaporit dengan air hingga bersih
h.                                                                  Diamkan hingga kering, kemudian bak dapat diisi air
i.                                                                    Induk dapat dipindahkan pada bak pemeliharaannya.

Gambar. Persiapan wadah pemijahan

3.4.      Pemeliharaan Induk

3.4.1.   Lingkungan Pemeliharaan
Induk ikan kakap putih ( Lates calcarifer ) yang dipelihara pada bak pemeliharaan yang merupakan sekaligus sebagai bak pemijahan. Bak pemeliharaan induk dibagi menjadi 2 yaitu bak tandon dan  bak fiberglass.
1.         Bak Tandon
Bak pemeliharaan induk yang digunakan di indoor yaitu bak tandon yang  terbuat dari beton dengan bentuk sebuah lingkaraan dengan diameter 8 m dan tinggi 3 m yang dapat menampung air sebanyak 120 ton. Jumlah induk yang dipelihara dalam bak tandon yaitu 39 ekor dengan jumlah jantan 10 ekor dan betina 29 ekor. System perlakuan air yang dilakukan secara Open Flow, artinya air masuk melalui inlet dan keluar melalui outlet secara terus menerus. Dan dilengkapi dengan sinar ultraviolet yang berfungsi untuk membunuh kuman dan bakteri yang ada dalam air yang dapat mengakibatkan induk terserang penyakit.  Sinar ultraviolet yang digunakan sebanyak 24 buah.
        Gambar. Skema pergantian air ( Open Flow )

Gambar. Bak pemeliharaan induk ( indoor )



2.         Bak Fiberglass
Bak pemeliharaan induk yang digunakan di outdoor yaitu bak fiberglass yang berbentuk lingkaran dengan diameter 5 m dengan tinggi 2 m yang mampu menampung air sebanyak 40 ton. Jumlah induk yang dipelihara dalam bak fiberglass yaitu 15 ekor dengan jumlah jantan 7 ekor dan betina 8 ekor. System perlakuan air yang dilakukan secara Resirkulasi, artinya air yang masuk dan keluar melalui proses sirkulasi yang melewati pressure dan filterisasi, yang berfungsi untuk menyaring kotoran – kotoran yang ada dalam air. Namun, pada pagi harinya dilakukan proses Back Wash, artinya untuk membuang kotoran dan sisa pakan yang ada dalam pressure.




Gambar. Skema pergantian air ( Sirkulasi ).



Gambar. Bak pemeliharaan induk ( outdoor )

Setiap bak pemeliharaan induk dilengkapi dengan pintu pemasukan air yang terlatak diatas dan pintu pengeluaran yang terletak ditengah dasar kolam serta dilengkapi dengan bak pelimpasan atau bak penampungan telur yang terletak disamping  bak pemeliharaan.  Lingkungan di bak pemeliharaan dimanipulasi dengan sedemikian rupa seolah – olah mirip dialam aslinya, perlakuan manipulasi yang diterapkan berupa penaikan dan penurunan tinggi air serta arus yang dibuat begerak memutar seperti arus ombak dilaut sehingga kualitas air tetap terjaga dan untuk merangsang induk kawin dengan pergantian air baru. Perlakuan penurunan air pada pagi hari dan di naikkan pada siang hari sekitar 75 % dari total tinggi air dalam setiap harinya.


3.4.2    Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan Induk ikan kakap putih ( Lates calcarifer ) harus memiliki kualitas yang baik.  Frekuensi pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari, yaitu pada pagi hari sekitar pukul 09 : 00 WITA  dan sore hari sekitar pukul 13 : 00 WITA, dengan dosis 1 - 3 % dari biomasa. Cara pemberian pakannya dilakukan secara bertahap. Pemberian pakan yang berlebihan pada induk, dapat mempengaruhi proses pemijahan. Pemberian pakan dilakukan ketika air dalam keadaan rendah, agar dinding bak pemeliharaan ikan tidak berjamur ataupun bakteri. Pakan yang diberikan berupa pakan buatan dan pakan alami, antara lain sebagai berikut            :

1.         Pakan Buatan
Pakan buatan untuk induk ikan kakap putih ( Lates calcalifer ) yang dipelihara adalah pakan racikan sendiri yang komposisinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi induk dan memperlancar proses pemijahan, sehingga memperoleh kualitas telur dan benih yang baik. Berikut komposisi pakan yang digunakan :


No
Jenis Pakan
Dosis
1.
Ikan rucah
1 - 2 kg
2.
Cumi
2.5 - 5 kg
3.
Cacing
0.5 kg
4.
Tiram
0.5 kg
5.
KPA 7
2 kg
6.
PSP
100 gr
7.
Natur E ( soft capsul )
2 butir                         
8.
Tepung Sidat
9 gr
9.
Vitami Mix
15 ml
10.
Vitamin C
15 gr
11.
Fish Oil
5 ml
12.
Scoo't Imosion
6 ml
13.
A1 Dha Selco
       6 m















 Tabel.1. Komposisi pakan induk
           

Cara pembuatan pakan : 
a.         Campurkan seluruh  bahan satu per satu
        b.   Aduk hingga merata
c.           C.        Kemudian digiling menggunakan mesin pencetak pakan

2.         Pakan Alami   
Pakan alami yang digunakan yaitu cumi. Cumi yang diberikan pada induk kakap sebanyak 2,5 – 5 kg setiap harinya. Sebelumnya cumi diproses terlebih dahulu dengan cara tulang cumi dibuang, kemudian potong –  potong menjadi ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut ikan. pakan buatan diberikan pada pagi hari, sedangkan cumi diberikan pada siang harinya.