PEMELIHARAAN LARVA IKAN KAKAP PUTIH
Penanganan Larva
Setelah
telur menetas, langkah selanjutya adalah skiming, yaitu memisahkan
memisahkanlarva dengan cangkang telur ataupun telur yang tidak menetes. Adapun
langkah-langkah skiming yaitu sebagai berikut:
1. Alat
a. Scop-net
mes 56
b. Ember
c. Gayung
2. Bahan
a.
Air
b.
Larva
ikan kakap putih
3. Langkah kerja
a.
Angkat
aerasi
b.
Tunggu
10 -15 menit, maka telur yang menetas ( Larva ) akan naik ke permukaan,
sedangkan cangkang telur dan telur yang tidak menetas mengendap di dasar.
c.
Ambil
larva dengan menggunakan scop-net lalu tampung dalam ember dengan voleme 10
liter air.
Setelah proses skiming selesai, selanjutnya yaitu
perhitungan larva, perhitungan larva bertujuan untuk mengetahui jumlah larva
dan menentukan padat tebar. Cara perhitungan telur, yaitu dengan cara sampling.
Apabila larva telah di hitung dan padat tebar telah ditentukan, langkah
terakhir dalam penanganan larva adalah penebaran, adapun langkah – langkah
penebaran adalah sebagai berikut :
1. Alat
a. Bak
pemeliharaan yang sudah disiapkan
b. Baskom
besar
c. Pipet
1 ml
2. Bahan
a. Air
b. Larva
ikan kakap putih
3. Langkah kerja
a. Sebelum
larva di tebar, celupkan dan cuci bagian luar ember dengan larutan
b. Tebar
larva dengan cara aklimatisasi
3.10
Pemeliharaan Larva dan Benih
Larva
adalah anak hewan avertebrata yang masih harus mengalami modifikasi menjadi
lebih besar atau lebih kecil untuk mencapai bentuk dewasa. Menurut Lagler (
1956 ), larva adalah organism yang masih berbentuk primitive atau belum
mempunyai organ tubuh lengkap seperti induknya untuk menjadi bentuk detinitif
yaitu metamorfosa. Perkembangan stadia larva meliputi stadia pro-larva dan
stadia pasca larva. Stadia pro-larva merupakan tahap larva yang masih memiliki
kuning telur, stadia pasca larva merupakan taahap larva yang telah habis kuning
telurnya dan masa penyempurnaan organ – organ tubuh yang ada. Akhir stadia ini
ditandai dengan bentuk larva yang sama dengan induknya yang biasa disebut
dengan juvenile atau benih ikan.
3.10.1
Lingkungan Pemeliharaan
Pemeliharaan larva dimulai dengan penebaran larva kedalam bak
pemeliharaan, dengan padat tebar yang di gnakan di PT. Suri Tani Pemuka,
Singaraja – Bali yaitu 11.000 – 15.000/Ton air. Bak yag digunakan untuk masa pemeliharaan
hari ke- 0 ( D0 ) samapai hari ke- 15 ( D15 ) berupa bak berbentuk persegi
panjang dengan ukuran :
Panjang : 5 m
Lebar : 2 m
Voleme : 15 m3/15 ton
Adapun
kualitas air yang baik untuk pemeliharaan larva kakap putih yaitu sebagai
berikut :
Suhu
: 300 – 330 C
Ph :7-8,5
Salinitas
: 30 – 34
pp Oksigen Terlarut :5-7 mg/liter
Gambar.
Bak pemeliharaan larva
3.10.2 Pemberian Pakan
Larva
yang berumur 1-2 hari ( D1 - D2 ) berwarna putih transparan, bersifat
planktonis, bergerak mengikuti arus, sistem penglihatan belum berfungsi, serta
masih mempunyai yolk salk sebagai cadangan makanan sehingga larva belum
membutuhkan pakan tambahan dari luar tubuhnya. Pada saat larva kakap putih
berumur 3 hari ( D3 ) cadangan makanan mulai terserap habis, mulut dan sistem
penglihatan sudah mulai berfungsi sehingga larva membutuhkan pakan tambahan.
Adapun pakan yang diberikan pada larva ikan kakap putih yaitu sebagai berikut :
1. Pakan
Alami
A.
Algae ( Nannochloropsis oculata )
Pakan alami nannocloropsis dikultur
pada bak beton yang terletak di outdoor ( kultur massal ) dengan kapasitas 20
ton. Dengan dosis pupuk yaitu sebagai berikut:
Jenis
Pupuk
|
Dosis
(ppm)
|
Dosis
(gr)
|
TSP
|
25
|
500
|
Urea
|
50
|
1000
|
FeCl
|
2
|
40
|
ZA
|
50
|
1000
|
EDTA
|
7
|
140
|
Table. Jenis pupuk yang digunakan kultur Nannochlropsis
oculata
Untuk bibit yang bagus adalah yang terlihat berwarna hijau
kekuningan dengan kepadatan 10.000 cell / ml. untuk selama pengkulturan, sangat
membutuhkan sinar matahari, semakin terik matahari maka semakin bagus kualitas
pakan alami tersebut, karena terjadi proses fotosintesis. Namun sebaliknya,
jika terjadi cuaca mendung dan hujan, maka kondisi dari pakan alami ini akan
drop bahkan mati, sehingga tidak dapat dikonsumsi oleh larva dan rotifer.
Pada pemberian pakan alami ini untuk larva, diberikan pada pagi hari sekitar pukul
07.00. pakan ini disedot menggunakan klep untuk menyedot melalui selang dan
pipa ukuran 1inchi. Sama halnya dengan pemberian pada larva dan rotifer, pakan
alami yang bagus untuk diberikan larva dan pakan rotifer adalah berwarna hijau kekuningan dengan kepadatan lebih
dari 10.000 cell / ml. Pada pemberian pakan ini, diujung selang dipasangi
saringan dengan ukuran 150 mikron agar kotoran berupa lumut dan lainnya dapat
tersaring sehingga tidak mengganggu proses pemeliharaan, baik itu larva maupun rotifer. Pakan alami ini dapat tumbuh
dan berkembang pada suhu 29 – 300 C, pH 7 – 8 dan salinitas 20 – 23
ppt.
Gambar. Bak kultur algae
1. Alat
a. Mikroskop
b. Pipet
dan tabung reaksi kecil
c. Haemocytometer
d. Counter
dan alat tulis
2. Bahan
a. Sampel Nannochloropsis oculata
3. Langkah kerja
a. Ambil sampel, tampung
pada tabung reaksi
b.
Lihat sampel dengan menggunakan mikroskop
c. Didalamnya ada 25 kotak besar ( Voleme setiap
kotak 104 mm3),
didalam
setiap kotak besar ada 16 kotak kecil, hitung yang ada didalam kotak kecil
tersebut
D.
Setelah didapat hasil, maka hitung menggunakan rumus
berikut : Hasil X 25 X 104.
B.
Rotifer ( Brachionus Sp )
Untuk pemberian pakan rotifer, pakan
ini dikultur pada bak beton yang terletak di indoor dengan kapasitas 20 ton.
Untuk bibit rotifer, kepadatan yang
ideal adalah 100 – 120 cell / ml. Untuk proses kultur digunakan air bor steril
sebanyak 5 ton atau 5000 liter dengan salinitas 15 ppt dan suhu 300C.
Setelah itu ditambahkan dengan bibit phytoplankton
berupa nannocloropsis sebanyak 5
ton dengan kepadatan 10.000 cell / ml. Setelah itu, baru di masukkan bibit rotifer sebanyak 5 ton. Proses kultur
dilakukan selama 3 – 4 hari, setelah hari tersebut rotifer baru dapat dipanen. Ciri – ciri rotifer yang baik adalah berwarna coklat pekat.
Rotifer dipanen
menggunakan selang spiral dengan ukuran 2 inchi yang di ujungnya di pasangi
saringan 275 mikron dan sterofoam untuk wadah menampung saringan yang telah
menghasilkan rotifer. Setelah panen
dilakukan, hasil yang telah didapatkan dipindahkan ke dalam ember kapasitas 10
liter lalu dipindahkan ke bak fiber untuk selanjutnya diberikan kepada larva
kakap putih.
Gambar 3: Proses Panen Rotifer
Hal yang sangat mempengaruhi pertumbuhan rotifer adalah cuaca dan pertumbuhan phytoplankton. Jika mendung atau hujan,
maka pertumbuhannya akan lambat bahkan bisa drop, sehingga akan mempengaruhi
kualitas larva yang mengkonsumsi. Begitu juga sebaliknya. Jika cuaca cerah,
maka pertumbuhan rotifer akan bagus. Pakan alami ini dapat hidup dan berkembang
dengan baik pada suhu 29 - 300C, pH antara 7 – 8 dan salinitas 21 –
23 ppt. Rotifer yang diberikan pada larva dapat diperkaya kandungan
nutrisinya dengan cara memberikan pakan ragi instan mauripan dan terasi, atau
pakan yang memiliki kandungan asam lemak ( hufa ). Adapun
bahan - bahan pembuatan hufa :
1.
Gelatin
: 30 gr
2.
Telur kuning
ayam : 4 butir
3.
Betacarotin
: 1 gr
4.
Vitamin
mix
: 10 gr
5.
Minyak
ikan
: 160 ml
6.
Air
hangat
: 800 ml
2.
Pakan buatan
Pakan buatan ( pelet ) yang di berikan untuk pemeliharaan larva ikan kakap
yaitu otohime, yang import dari negara Jepang. Berikut jenis pakan
otohime yaitu A, A1, B1, B2, C1, C2, S1, S2, EP1, EP2, EP3, EP4. Pemberian
pakan menggunakan system otomatic feeder. Pakan diberikan pada hari ke- 9
( D9 ), dengan dosis bervariasi sesuai dengan ukuran dan bobot larva. Adapun
jenis pakan buatan ( pelet ) yang digunakan yaitu sebagai berikut :
Gambar.
Jenis pakan otohime.
Gambar. Otomatic feeder
3.10.3
Pengolahan Air
Perkembangan dan survival rate larva sangat bergantung pada parameter
lingkungan pemeliharaan yang diantaranya adalah intensitas cahaya, oksigen
terlarut, suhu, dan salinitas.
Menurut Sugama Etal ( 2003 ) pemeliharaan larva dilakukan dengan menggunakan
metode green water. Alga yang digunakan untuk metode ini adalah
nannochloropsis dengan kepedatan 300.000/ 500.000 sel/ml. Dan
alga ini juga dapat dijadikan pakan bagi rotifer pada bak pemeliharaan larva.
Pengolahan air dapat dilakukan dengan pergantian air,
pergantian air mulai dilakukan pada pagi hari ke- 9. Pergantian air untuk larva
berumur 9 hari sampai umur 15 hari adalah 10 – 15 % setiap hari. Pergantian air
ini terus ditingkatkan yaitu 30 -50 % stiap hari untuk larva berumur 16 hari
sampai umur 30 hari pergantian air dapat dilakukan hingga 80% setiap hari.
3.10.4 Grading
Grading adalah Ikan kakap tergolong ikan yang kanibal sehingga perlu dilakukan
grading untuk memisahkan ukuran benih yang besar dan yang kecil. Grading
dilakukan untuk menghindari sifat kanibalisme ikan sehingga tingkat
kehidupannya akan tinggi.
Chan ( 1982 ) mengatakan bahwa ikan – ikan yang lebih besar
akan memangsa ikan lebih yang kecil, ketidak seragaman ukuran mulai sejak larva
berukuran 15 hari karena adanya pertumbuhan ikan yang terlalu cepat atau sangat
lambat, grading pertama dapat dilakukan pada saat larva beruur 16 hari, adapun
langkah langkah yaitu sebagai berikut :
1. Alat :
a. Bak
pemeliharaan yang sudah disiapkan
b. Jaring
c. Scop
– net
d. Gayung
e. Alat
gradingan
f. Baskom
g. Wadah
( jaring happa ) yang sudah disiapkan
2. Bahan :
a. Air
b. Larva ikan kakap putih
3. Langkah Kerja :
a. Air disurutkan hingga hanya setinggi +
30 cm
b. Giring ikan menggunakan jaring dan
tangkap dengan menggunakan scop – net, lalu tampung dalam baskom
c. Di angkut menuju jaring happa yang
sudah disiapkan, lalumasukan ikan ke alat gradingan
d. Ikan yang berukuran kecil akan lolos
melalui lubang alat gradingan tersebut, sedangkan ikan – ikan yang berukuran
lebih besar akan tertahan didalamnya yang akan di masukan ke wadah, lalu di
pisah dari ikan yang kecil
e. Tebar kembali ikan ke bak pemeliharaan
yang sudah di siapkan.
Gambar.
Grading
3.10.5
sampling
Teknik
sampling ikan bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup
dari komoditas yang kita pelihara, dapat dijadikan acuan apakah perlu diberikan
pakan lebih / tidak.
Gambar. sampling
3.11
Panen
Langkah – langkah panen hampir sama dengan grading, yaitu di
awali dari menyurutkan air hingga + 30 cm. Setelah itu ikan digiring
menggunakan scop- net lalu ditampung dibaskom, kemudian diangkut ke area panen
untuk dihitung sesuai permintaan customer. Ada 2 jenis panen angkut dilakukan
di PT. Suri Tani Pemuka, Singaraja – Bali, yaitu :
1) Panen
dengan cara packing
A. Keunggulan
1. Jumlah
ikan lebih akurat
2. Untuk
jarak tempuh perjalanan jauh ( antar pulau ataupun export )
B. Kekurangan
1. Kapasitas
6 liter/pack
2. Kuarng
simple
3. Biaya
lebih besar
1) Panen
dengan cara menggunakan blong/tangki
A. Keunggulan
1. Lebih
simple
2. Biaya
lebih minimal
B. Kekurangan
1. Jumlah
ikan kurang akurat dibandingkan panen dengan packing
2. Jarak
tempuh lebih dekat dari pada panen dengan di packing
Jarak panen yang dipilih sesuai dengan permintaan
customer, kepadatan yang ideal untuk muatan panen yaitu berkisar 5 – 10 kg/ton
air. tergantung jauh dekatnya jarak tempuh. Suhu selama perjalanan harus
berkisar 240C yang berfungsi agar memperlambat metabolisme tubuh
ikan, sehingga ikan tidak cepat lapar dan kuat dalam perjalanan.
No
|
Jenis Otohime
|
Size Ikan
|
1.
|
A1
|
D9 -
D20
( 0,8 cm )
|
2.
|
A
|
0,8 - 1 cm
|
3.
|
B1
|
1,1 - 1,4 cm
|
4.
|
B2
|
1,5 2 cm
|
5.
|
C1
|
2 - 2,9 cm
|
6.
|
S1
|
3 - 3,9 cm
|
7.
|
S2
|
4 - 4,9 cm
|
8.
|
EP1/KRA1
|
5 - 5,9 cm
|
9.
|
EP2/KRA,1,3
|
6 - 6,9 cm
|
10.
|
EP3/KRA1,6
|
7 - 9 cm
|
11.
|
EP4/KPA3
|
10 - 12 cm
|
No
|
Umur
|
Ukuran Pelet
|
1
|
D 9 - D 16
|
100 - 200 mikron
|
2
|
D 17 - D 20
|
200 - 300 mikron
|
3
|
D 21 - D 25
|
200 - 400 mikron
|
4
|
D 26 - D 30
|
300 - 600 mikron
|
5
|
D 31 - D 36
|
500 - 800 mikron
|
6
|
D 37 - D 40
|
1 - 1.4 mm
|
7
|
D 41 - D 50
|
1.4 - 1.5 mm
|
8
|
D 51 – 60
|
2.2
- 3 mm
|
